[REPOST] Mahasiswa ITS Kenalkan Keris pada Dunia

ITS membuktikan bahwa masih ada pemuda Indonesia yang peduli dengan budaya lokal. Menjadi satu-satunya perwakilan dari Asia, Abrar Ridhollah dan Fauzan Kurniawan tampil dalam perlombaan MTS Baldesmithing dengan membawakan keris. Kehadiran pedang khas Indonesia dalam perlombaan di San Diego, Amerika Serikat tersebut membawa cerita tersendiri bagi keduanya.

Perlombaan membuat pedang tersebut dilaksanakan dalam empat hari pada Januari hingga Februari silam. Di Negeri Paman Sam tersebut, keris yang dibawa keduanya dipamerkan dalam eksibisi yang diadakan oleh perusahaan pengolahan mineral, material, dan metal.

Fauzan bercerita, selama di San Diego keris yang dibawa tim ITS membuat penasaran beberapa peserta yang ditemuinya. Para mahasiswa dari berbagai dunia merasa kagum dengan lekukan indah yang menjadi ciri khas pedang asli Indonesia itu. “Beberapa peserta yang berasal dari kampus terbaik di dunia mengapresiasi pedang buatan kita,” ujar Fauzan.

Disamping itu, inisiatif tim ITS untuk membawakan kebudayaan asli Indonesia turut membuat peserta lain merasa iri. Salah satunya adalah peserta asal Filipina yang berkuliah di Amerika. Dengan bangga ia mengapresiasi tim ITS yang berinisiatif menunjukkan kearifan budaya lokal di panggung internasional.

“Terlebih lagi ada peserta dari negara lain yang membuat pedang khas negara Filipina, tapi dengan beberapa modifikasi. Jadi dia benar-benar merasa sangat kecewa karena menemukan orang lain yang membawakan budaya negaranya dengan versi berbeda,” kenang Abrar.

Pada akhirnya, Abrar dan Fauzan memang tidak berhasil membawa gelar juara ke kampus perjuangan. Namun hal ini tidak membuat keduanya kecewa, terlebih bila mengingat bagaimana perjuangan mereka untuk sampai ke San Diego. “Setidaknya kita sudah membuktikan sendiri bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar,” ujar Abrar bijak.

Berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari seluruh dunia juga meninggalkan pengalaman yang berharga bagi keduanya. Menurut Fauzan persaingan di dunia global jauh lebih ketat. Untuk itu mahasiswa asal Tanggerang Selatan ini menghimbau seluruh mahasiswa ITS untuk turut bisa keluar negeri agar bisa merasakan persaingan tersebut.

Pasca kepulangan dari San Diego, kini Abrar dan Fauzan bersama tiga rekan lainnya mulai mengambil ancang-ancang untuk mempersiapkan regenerasi. Menurut Abrar, apa yang dilakukan ia dan teman-temannya hanyalah gerbang awal bagi generasi selanjutnya di bidang serupa.

Lebih lanjut, mahasiswa asal Bangka Belitung tersebut mengatakan tim yang akan disiapkan di kesempatan selanjutnya tetap membawa budaya Indonesia. Bedanya, kedepannya produk yang akan dihasilkan akan ditingkatkan dari sisi teknologi yang digunakan. “Teknologi boleh terus berkembang, tapi bukan berarti kita harus meninggalkan budaya kita,” ungkap Abrar.

Di masa yang akan datang, Fauzan dan Abrar memiliki harapan yang sangat besar terhadap keris dan perlombaan yang baru saja mereka ikuti. Keduanya bermimpi apa yang telah mereka inisiasikan bisa menjadi ikon bagi ITS. “Harapannya, apa yang kita buat ini bisa menjadi ciri khas ITS layaknya mobil sapu angin atau motor listrik,” harap Fauzan. (mik/hil)
Source : https://www.its.ac.id/berita/101658/en

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *