Sempat Vakum, Ini Perjalanan Tim Antasena ITS Menuju Kejuaraan Dunia

Tim Antasena ketika mengikuti SEM Eropa di London

Kampus ITS, ITS News – Menjadi peserta undangan untuk bertanding di Shell Eco Marathon (SEM) Eropa adalah suatu prestasi dan impian tersendiri bagi semua mahasiswa yang bergelut di bidang otomotif baik dari Indonesia maupun negara lain. Tahun ini, giliran Tim Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang beruntung untuk mengikuti kompetisi tersebut. Namun, di balik prestasi ini ternyata terdapat perjuangan keras dari para anggotanya.

Dosen pendamping SEM Eropa 2019 di London yang sekaligus Kepala Departeman Teknik Material dan Metalurgi, Dr Agung Purniawan ST MEng mengaku bahwa sebenarnya ide mobil hidrogen Antasena ini sudah mulai digagas sejak 2009. Kemudian pada 2012 dan 2014 mobil tersebut sukses mengikuti SEM Asia. “Namun sayangnya, masih belum bisa mencapai garis finish,” ujar Agung.

Setelah cukup lama tidak ada aktivitas, Agung bercerita, sekitar tiga tahun lalu beberapa mahasiswa meminta izin menghidupkan Antasena kembali. “Silakan dihidupkan tapi harus dengan jenis mobil yang berbeda dengan tim yang sudah eksis di ITS yaitu Sapu Angin dan Nogogeni,” jawab Agung kepada mahasiswa yang sedang memperjuangkan Tim Antasena ITS kala itu.

Sementara itu, General Manager Tim Antasena ITS, Ghalib Abyan menjelaskan, perjuangan mengembalikan Antasena tersebut tidaklah mudah. Masalah klasik terkait pendanaan oleh sponsor dan kepercayaan publik kepada Tim Antasena ITS masih sangat rendah. Memang kala itu nama Antasena belum populer dan harus ada pembuktiannya. Oleh karenanya, tim ini berusaha mengikuti berbagai lomba inovatif untuk membangun dan memperkenalkan nama Antasena.

Kesuksesan Tim Antasena ITS saat SEM Asia di Sepang International Circuit, Selangor, Malaysia.

Akhirnya dalam ajang International Young Innovative Award (IYIA) 2018 di Bali, Tim Antasena ITS sukses mendapat sebuah medali emas dan dua medali perunggu pada ketiga karyanya.  Salah satunya adalah alat yang berfungsi untuk mereduksi polusi pembakaran di knalpot.  Tidak hanya hal itu, pada Bulan Februari lalu juga Tim Antasena ITS sukses meraih medali perunggu untuk extruder 3D printing portable di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ghalib juga menyayangkan untuk level nasional, Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) kategori mobil hidrogen masih belum ada. Sebab, lanjutnya, dibutuhkannya keahlian yang berbeda dengan mobil berbahan bakar lainnya. Akan tetapi, bermodalkan semangat tinggi untuk selalu belajar dan berinovasi, tim Antasena mengambil tempat kosong pada kelas diesel yang sebelumnya dipakai oleh tim Sapu Angin dan sudah ditinggalkan.

Mobil Tim Antasena ITS ketika mengikuti KMHE 2018 di Padang

Sehingga, pada akhirnya, semua kelas pada KMHE ada perwakilannya dari ITS. Terdapat buah manis pada KMHE 2018 di Padang di mana Mobil Diesel Antasena berhasil meraih posisi ke tiga. Tentunya hal itu melengkapi perolehan medali tim mobil ITS. Hasilnya, tropi juara umum pada KMHE sukses diraih oleh ITS. “Kami akan selalu menjaga semangat dan komitmen untuk berusaha maksimal memberikan yang terbaik untuk ITS dan Indonesia dengan turun di kelas diesel untuk KMHE 2019 dan di kelas hidrogen untuk SEM 2020 nantinya,” pungkasnya dengan semangat tinggi. (sof/owi)

Source by itsnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *